5 WISATA RELIGI MADURA: BERAPA BIAYA PAKET PERJALANANYA ?

Madura bisa di bilang pulau santrinya Jawa Timur. Disini, anda bisa menemukan ratusan pondok pesantren, anak-anak pergi mengaji di sore hari. Memang terkesan udik, namun cara hidup ini justru membawa ketenangan. Sedikit menjauh dari hiruk pikuk modernitas yang membawa manusia pada keterasingan. Dan hidup yang membosankan. Manusia jaman now yang tak pernah bisa menemukan siapa dirinya. Sebab hidup di kontrol pada waktu yang pasti, fixed, terlalu sibuk. Di tekan dengan beragam tugas yang sebetulnya tak pernah benar-benar mereka sukai.

BIAYA WISATA RELIGI MADURA
TEMPAT WISATA RELIGI MADURA
Roda berputar seperti itu, dan mereka semakin jauh dari sang pencipta. Tepat di titik ini, anda harus merengkuh nimatnya mendekati Tuhan. Hal paling sederhana yang bisa di lakukan adalah ziarah.

Tujuan ziarah di Madura cukup banyak dan beragam. Namun ada beberapa tempat wisata religi yang seharusnya anda kunjungi. Setidaknya sekali seumur hidup. Dan ini review kami.

Wisata Religi di Madura


 1. Makam Syaikhona Kholil

Warga Nahdliyyin (NU) mengenalnya sebagai Mbah Kholil. Bisa di bilang, beliau adalah salah satu nama wali madura yang paling sering di kirimi doa saat jamaah. Mbah Kholil merupakan guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Makamnya terletak di dalam masjid Desa Mertajasah Kabupaten Bangkalan.

Kabupaten ini memang terkenal metode pengajaran yang nyeleneh. Jadi disini, proses belajar tidak hanya dilakukan di pesantren. Kadang pelajaran diberikan sambil berjalan mengelilingi Kota Bangkalan, kadang dibawah pohon, dipinggir sungai atau di atas bukit. Jadi anda sekarang mungkin bisa menebak kenapa Gus Dur seunik itu.

Mencapai Bangkalan tidak sulit, sebab ia termasuk kabupaten yang paling dekat dengan Surabaya. Jadi untuk urusan transportasi akan tersedia setiap waktu. Makam Muhammad Syaikhona Kholil sangat ramai dikunjungi, apalagi di hari-hari menjelang puasa. Oleh sebab itu, pastikan anda datang di momen yang pas.

Selain Mbah Kolil, makam waliyullah lain di Madura yang bisa dikunjungi adalah makam Syekh Yusuf Talango. Namun rutenya cukup sulit sebab pengunjung harus menyeberang sekitar 15 menit dari pelabuhan Kalianget yang terletak di ujung Timur Madura. Ada juga wisata religi Sunan Cendana. Makam keramat ini memang tidak seterkenal Makam Mbah Kholil, namu tidak ada salahnya berkunjung kesini sebab jaraknya cukup dekat dengan Makam Syaikhona Kholil.

2. Batu Ampar

Batu Ampar juga menjadi bukti bagaimana produsen garam ini sangat menghormati dan menjadikan sosok para kyai yang pernah hidup di masa lampau sebagai panutan. Di lokasi ini, di makamkan 6 makam aulia atau wali Allah seperti Syekh Abdul Manan (Bujuk Kosambi), Syekh Basyaniyah (Bujuk Tumpeng), Syekh Abu Syamsudin (Bujuk Lattong), Syekh Husen, Syekh Moh. Romli dan Syekh Damanhuri. Jadi lokasi termasuk komplek makam.

Pasaren Batu Ampar ini sangat disucikan oleh masyarakat Madura. Bahkan dianggap setara dengan makam para Wali Songo. Batu Ampar sendiri berasal dari Bahasa Madura yaitu “Bato” yang berarti batu dan “Ampar” yang berarti berserakan namun teratur. Berada di makam, anda akan merasakan hawa sejuk yang luar biasa. Pemdandangan indah dikitari perbukitan. Pun, fasilitas yang disediakan juga sangat memadai. Musala yang terawat, penginapan, kamar mandi umum dan tempat parkir yang cukup luas.

Makam keramat Batu Ampar ini berada di Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Kira-kira sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Pamekasan. Yang cukup disayangkan mungkin hanya akses transportasi umum ke lokasi tersebut tidak banyak pilihan. Apalagi jika sudah mulai maghrib, kami pastikan anda serasa menuju dunia lain.

Cara terbaik untuk mencapai tempat ini adalah dengan membawa kendaraan pribadi atau menyewa travel di Surabaya. Kami menyediakan travel Surabaya ke Madura dengan kualitas prima yang menjamin wisata religi anda lebih berkesan. Menuju Batu Ampar, di sepanjang kiri-kanan jalan, anda akan menjumpai ada banyak penjual aneka souvenir dan oleh-oleh khas Madura semisal batik tulis dan rengginang lorjuk.

3. Asta Tinggi

Bukan hanya makam suci dari ulama besar yang di muliakan, pesarean para raja dan keluarganya pun tak luput dari kunjungan religi. Alasanya jelas, masyarakat Madura terpukau dengan kharisma pemimpïn. Mereka sepenuhnya yakin jika para raja yang diagungkan tersebut tidak akan sembarangan menabrakan dokarnya ke tiang bendera.

Jika anda sudah bosen melihat tingkat pemimpin sekarang, cobalah datang ke Asta tinggi. Kawasan ini terletak di dataran tinggi bukit Kebon Agung Sumenep. Penataan makam dan pintu gerbangnya sangat artistik. Itu adalah cerminan cita rasa seni yang tinggi. Gambaran pemimpin yang berkelas, mirip Soekarno yang mengagumi lukisan Raden Patah.

Secara etimologis, Asta Tinggi bisa di artikan sebagai makam yang tinggi. Penamaan ini berdasar letak makam yang berada di puncak bukit. Jadi kami rasa, nama ini dipakai hanya untuk mempermudah penyebutan saja.

Makam pertama di tempat ini dihuni oleh R.Mas Pangeran Anggadipa, seorang adipati. Awalnya makam ini, hanya rimba belantara dan batuan terjal. Kemudian di pugar semasa pemerintahan Pangeran dan berlanjut hingga era Panembahan Notokusumo. Sekarang makam ini memiliki 3 kubah di bangunan sebelah barat dan satu di bangunan timur.

4. Aeng Matah Ebuh (Air Mata Ibu)

Jika di Sumenep ada Asta tinggi, di Bangkalan ada makam para raja dengan sebutan air matah ebuh. Lokasinya tak jauh dari Makam Syaikhona Kholil, tepatnya di kecamatan Arosbaya.

Sejarah makam ini tak lepas dari cerita romantis seorang wanita yang lagi long distance dengan suaminya. Wanita tersebut merupakan seorang ratu bernama Syarifah Ambami istri dari Raden Praseno. Dan memang saat itu sang raja lebih sering berada dan menghabiskan waktunya di Mataram. Jarak Madura ke Mataram yang berada di Jawa tengah memang cukup jauh untuk ukuran manusia jaman old.

Dan beban rindu itulah yang membuat sang ratu bersemedi. Memohon agar keturunannya kelak sampai pada tujuh turunan, dapat ditakdirkan untuk menjadi penguasa pemerintahan di Madura. Nabi Hidir pun memberi kabar bahwa semua doanya akan di kabulkan. Namun yang terjadi? Raden Praseno marah. Beliau protes kenapa hanya tujuh turunan. Mungkin di pikirnya tujuh turunan sedikit banget ya pembaca.

Dari sini Syarifah pun kadang merasa sedih. Ia terus menangis. Air mata tersebut lantas membanjiri tempat itu, dan menjadi sumber mata air. Masyarakat pun percaya, Sumber mata itu dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Namun menurut kami jangan. Niatkanlah berwisata religi hanya untuk mengenang jasa mereka yang telah meninggal. Ambilah pelajaran dari ketaatan ratu Syarifah yang tanpa lelah menunggu Raden Praseno.

Ah, seandainya saat itu ada smartphone. Tinggal WA Akcaya travel, pastilah mereka dapat selalu bersama-sama.

7. Masjid Agung dan Keraton Sumenep

Masjid Agung dan Keraton Sumenep bisa dibilang satu kompleks karena jaraknya yang sangat dekat. Letak masjid bernuansa Tiongkok ini tepat di jantung Kota Sumenep. Ia berdiri tegak di sebelah barat alun alun. Sedangkan keraton sumenep terletak di timur alun-alun kota. Tata kota macam ini memang sudah umum dijumpai di kota-kota di Pulau Jawa.

Masjid ini dibangun setelah pembangunan Kraton Sumenep, sebagai inisiatif dari Adipati Sumenep, Pangeran Natakusuma I. Dari sini sebetulnya kita bisa melihat bagaimana pengayoman para Raja di Madura terhadap agam Islam. Hal ini jualah yang membuat Islam di Madura cukup kental. Efeknya kita bisa melihat sekarang, Madura menjadi salah satu kunjungan ziarah.

Dan kalau berkunjung ke sumenep, anda dapat dengan mudah memudahkan masjid dan keraton ini. Angkutan umum juga lalu lalang melewati jalan di area tersebut.

Paket wisata religi madura : berapa biayanya ?


Jika anda ingin memesan paket wisata religi di Madura dengan biaya yang terjangkau silahkan hubungi akcaya travel. Kami memberikan pelayanan semaksimal mungkin agar wisata religi anda berjalan dengan khusuk. Berminat? WA saja klik WA-082233363446

Masukkan Email Anda Untuk Mendapatkan Info Paket Wisata Murah Terbaru:

0 Response to "5 WISATA RELIGI MADURA: BERAPA BIAYA PAKET PERJALANANYA ?"

Posting Komentar

Web Analytics